1. Pendahuluan

Tulisan ini tentunya tidak dimaksudkan untuk mendaur ulang pernyataan Salam Rushdie dengan novel kontroversialnya pada tahun 1989-an itu. Sedikit kita lirik materi kontroversialnya Salman Rushdie yang bertajuk satanic verses itu. Stanic verses berkaitan dengan kisah yang dalam literatur keislaman dikenal sebagai qishshat al-garânic. Kisah ini dikaitkan dengan peristiwa Nabi Muhammad Saw. membacakan  Q.s. al-Najm [53]:19-20, “"Maka apakah patut kamu (orang-orang musyrik) menganggap al-Lata dan al-Uzza, dan Manat, yang ketiga, yang paling terkemudian?

Dalam sejumlah riwayat sejarah yang diperselisihkan keabsahannya, dikisahkan adanya ungkapan: “tilka al-ghânîq alâ wa in syafâátuhunna laturtajâ -- itulah gharaniq yang tinggi, dan sesungguhnya syafaat mereka benar-benar diharapkan." Ungkapan inilah yang merupakan inti kontroversi. Namun, kalimat tersebut bukan bagian dari Al-Qur'an. Menurut kisah itu, kalimat tersebut seolah-olah memberikan pengakuan terhadap tiga berhala yang disembah masyarakat Arab pra-Islam. Tetapi keabsahan riwayat tentang kemunculan kalimat itu diperdebatkan dalam khazanah tafsir dan sejarah Islam. Banyak ulama menolaknya sebagai riwayat yang tidak dapat dijadikan dasar untuk menetapkan adanya campur tangan setan dalam wahyu.

Pada 19 Februari 1989, Rushdie menulis artikel berjudul: “Islam, Censorship and 'The Satanic Verses”. Artikel tersebut diterbitkan oleh Los Angeles Times. Dalam tulisan itu, Rushdie menjelaskan bahwa karya sastra merupakan ruang untuk mengeksplorasi pengalaman manusia, termasuk pengalaman keagamaan. Ia juga mengakui bahwa novel tersebut menggunakan penggambaran yang dapat dianggap negatif terhadap tokoh-tokoh yang diasosiasikan dengan sejarah Islam. Namun, ia membela penggunaan penggambaran tersebut sebagai bagian dari kebebasan penciptaan karya sastra. Dalam penjelasannya, Rushdie menempatkan sastra sebagai sarana pencarian kebenaran melalui imajinasi, bukan sebagai sarana untuk menetapkan kebenaran teologis yang mutlak.

Ada fakta sejarah yang menarik. Pada Desember 1990, Rushdie pernah menyampaikan pernyataan yang menjauhkan dirinya dari ucapan tokoh-tokoh dalam novelnya yang dianggap menghina Nabi Muhammad saw., meragukan keaslian Al-Qur'an, atau menolak ketuhanan Allah.Pernyataan itu muncul dalam konteks upayanya memperbaiki hubungan dengan komunitas Muslim. Dalam laporan Associated Press yang diterbitkan Los Angeles Times pada 24 Desember 1990, Rushdie juga menyatakan tidak akan mengizinkan penerjemahan baru novel tersebut selama masih berpotensi menyinggung umat Islam. Akan tetapi, sikapnya kemudian berubah. Dalam wawancara tahun 1993, Rushdie menjelaskan bahwa pernyataan-pernyataan komprominya sebelumnya tidak sesuai dengan perasaan pribadinya. Artinya, sikap Rushdie mengalami perkembangan dan tidak dapat direduksi menjadi satu pernyataan saja.

Dalam wawancara dengan Lee Bollinger di Columbia University pada 2003, Rushdie menegaskan bahwa pengalaman menghadapi ancaman akibat novelnya telah memperkuat pandangannya mengenai kebebasan berekspresi. Baginya, pengalaman hidup dan latar belakang keagamaannya merupakan bahan yang sah untuk dieksplorasi melalui sastra. Dengan demikian, Rushdie memandang persoalan The Satanic Verses terutama sebagai persoalan kebebasan berkarya dan kebebasan berpikir.

Bagaimana kedudukan kisah gharaniq dalam literatur Islam? Inilah bagian yang sangat penting apabila kontroversi Salman Rushdie hendak dikaji secara ilmiah. Kisah gharânîq tidak diciptakan oleh Salman Rushdie. Pembahasan tentang kisah tersebut telah muncul dalam sejumlah karya sejarah dan tafsir Islam jauh sebelum novel The Satanic Verses diterbitkan. Di antaranya: Pertama, Tafsîr al-Ṭabarî, karya Abū Ja‘far Muḥammad ibn Jarīr al-Ṭabarī (w. 310 H). Dalam pembahasan Q.s. al-Hajj [22]: 52, al-Ṭabarī meriwayatkan sejumlah berita yang berkaitan dengan kisah gharânîq. Akan tetapi, pencantuman suatu riwayat dalam kitab tafsir tidak dengan sendirinya membuktikan kesahihannya. 

Kedua, Tafsīr Ibn Kathīr, karya Ismā‘īl ibn ‘Umar ibn Kathīr (w. 774 H). Ibn Kathīr membahas kisah tersebut dalam penafsiran QS. Al-Hajj [22]: 52. Ia menunjukkan persoalan pada jalur-jalur periwayatannya, termasuk banyaknya riwayat yang berstatus mursal. Ketiga, al-Shif. bi Ta‘rîf Ḥuqâq al-Muṣṭafâ, karya al-Qâḍâ ‘Iyâḍ (w. 544 H). Dalam pembahasan mengenai kemaksuman Nabi, al-Qâḍâ ‘Iyâḍ menolak kisah gharaniq sebagai dasar untuk menyatakan bahwa setan dapat memasukkan perkataannya ke dalam wahyu yang disampaikan Rasulullah.

Dari ketiga rujukan tersebut, kita dapat memahami bahwa kisah gharaniq telah menjadi objek perdebatan internal dalam tradisi keilmuan Islam. Dengan demikian, tidak tepat menyatakan bahwa keberadaan kisah dalam literatur sejarah otomatis membuktikan kebenaran seluruh isinya.

Sekali lagi tampilan beberapa paragraf tentang ayat setan dalam kontroversi Salman Rushdie di atas bukan sama sekali menjadi bagian bahasan untuk judulu tulisan kita kali ini. Kontroversi ayat setannya Salman Rushdie di atas menyasar obyek pendapat terhadap teks ayat dalam kitab al-Quran. Sedang yang akan disajikan dalam tulisan ini adalah mengenai esensi substansi dari pengabaran teks ayat dalam kitab al-Quran tersebut.

  1. Mengenal Hati

Pada tulisan terdahulu ditampilkan istilah tentang tiga lapis eksistensi diri, yaitu lahiriah-jasadiah, ruhaniah, dan batiniah – jasad-ruh-batin. Batin adalah anugerah Allah, ia adalah dzât atau ni’mat sebagai faidl – pancaran – yang diberikan dan disertakan Allah  kepada ruh dalam bertugas di dalam jasad – dalam dunia, di permukaan bumi.  Bahasan tenang hati ini adalah uraian tentang isi dan ruang lingkup batin. Terdahulu batin baru mengupas tentang lubb – inti terdalam sebagai yang menilai atau mengkonfirmasi nilai perbuatan ruh atas jasadnya. Kali ini isi dan rung lingkup batin akan diurai lebih luas lagi, dalam sub bab Mengenal Heti  dari judul tulisan ini.

Apa hubungannya bahasan tentang ayat Quran dan ayat Setan dengan mengenal hati? Hubungannya adalah karaena bahasan judul tulisn ini  tidak menyasar pendapat atau penafsiran terhadapa teks-teks ayat dalam kitab al-Quran seperti yang terjadi pada peristiwa Salman Rushdie di atas. Tetapi ayat Quran dan ayat Setan yang akan diuraikan dalam tulisan ini adalah mengenal wujud suara yang ada dalam hati. Sebelum mengenal suara hati, tentu kita kenal dulu hati itu apa, supaya tidak lewat begitu saja seperti yang selama ini kita cukupkan dalam hafalan dari uraian-uraian epistemologi.

Ada beberapa istilah atau kata dari teks-teks ayat dalam kitab al-Quran yang dikaitkan dengan hati, yaitu shadr—shudûr, fuâd, qalbu, dan lubb. Beberapa uraian terdahulu telah sebagian diuraikan tentang hati, tetapi belum begitu detil dan rinci. Semoga kali ini kita mendapat karunia kefahaman yang bisa menjadi pengetahuan untuk mengenal wujud dari istilah-istilah yang dikaitkan dengan hati.

  1. Pertama, shadr—shudûr .

Sebenarnya shadr—shudûr untuk menyebut sesuatu bahwa di dalamnya itu ada sesuatu yang berharga. Di dalamnya ada sesuatu yang bersifat berubah-ubah. Shadr-shudûr ini adalah tempat menampun ketiga nama lainnya itu. Atau Shadr-shudûr sebagai simbol penyebutan untuk menampakkan wujud dari ketiga sebutan lainnya fuâd, qalbu, dan lubb.  

Secara hafriah shadr berarti dada. Dalam beberapa teks ayat kitab al-Qur'an, kata ini sering berkaitan dengan keadaan kelapangan, kesempitan, dan sesuatu yang tersembunyi dalam diri manusia. Kelapangan dan kesempitan seperti yang diungkap misalnya dalam: Q.s. al-Insyirah [94]: 1, “alam nasyrah laka sharaka -- Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?" Ungkapan syahḥ al-shadr artinya menunjukkan kelapangan dada yang dikaruniakan Allah;

Q.s. al-An'am [6]: 125, “faman yuridillâhu an yahdiyahû yasyrah sharahû li al-islâm wa man yurid an yidlillahû yaj’al shadrahû dlayyiqan harajan kaannamâ yashsha’adu fi al-samâi kadzalika ja’allâhu al-rijsa ‘alâ al-ladzîna lâ yu`minûna -- "Barang siapa dikehendaki Allah untuk mendapat hidayah, Dia akan melapangkan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barang siapa  dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia menjadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia sedang mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”. Ayat ini memperlihatkan hubungan shadr dengan kesiapan si iman menerima petunjuk;

QS. An-Nas [114]: 5, “al-ladzî yuwaswisu fî shudûr al-nâsi -- yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia”. Pada teks ayat ini shudūr dalam bentuk jamak dari kata shadr, digunakan untuk menggambarkan ruh atau mukmin yang menjadi sasaran bisikan; Q.s. al-‘Aankabût [29]: 49, “bal huwa âyâtun bayyinâtun fî shudûr al-ladzîna ûtû al-‘ilma wa mâ yajhadu bi âyâtinâ illâ al-zhâlimûna -- sebenarnya, kitab Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.” Teks ayat ini mengabarkan bahwa ada yang tersembunyi di dalam sana dan bersifat rahsaia. Karena rahasia, maka mesti ada yang memberitahunya, beru kemudiann ia terungkap.

Jadi shadr—shudûr menggambarkan wadah besar yang mewakili seluruh eksitensi diri jasadiah-ruhaniah-batiniah. Shadr—shudûr seperti teks ayat di atas tentang ibarat naik mendaki langit merasakan sesak. Bukan kah orang merasakan sesak itu karena kekurangan oksigen, di antaranya. Itu artinya pengungkapan shadr—shudûr menunjuk keutuhan apa yang dirasakan oleh wujud yang dalam hati.

  1. Kedua fuâd. 

Fuâd-af`idah ini adalah rasa. Fuâd ini merasakan semua apa yang dilakukan oleh ruh pada saat mengendari tubuh. Apakah rasa itu baik atau buruk, senang-susah, bahagi-sedih, dan seterusnya. Rasi ini juga nanti yang menyatakan tashdîq bahwa hamba atau ruh atau mukmin sedang qâim di qiblat saat shalat dalam sembahyang lima waktu.

Itu tadi yang dirasakan di dalam. Fuâd yang juga merasakan pancaran dari dalam dada dan yang di luar dada. Fuâd  yang menyatakan suatu warna kuning, merah, putih, hijau, biru, dan sebagainya. Fuâd juga yang mesakan apa yang menimpa atau mengenai sekujur tubuh. Misalnya: merasa pahit-manais pada lidah; busuk-harum pada hidung; panas-dingin, sakit, gatal, pada kulit dan daging di sekujur tubuh.

Fuâd inilah yang sebenarnya yang disebut akhlaq yang disasar oleh Rasulullah Saw untuk disempurnakan dengan ajarang Islam. Akhlaq itu menurut al-Ghazali sebagai sumber perbuatan. Pernyataan ini dapat ditemukan dalam kitab Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, khususnya pada kitâb kiyâdlat al-nafs wa tahdhîb al-khlâq wa mu‘âlajat amrâdl al-qalb, bagian bayân haqîqat husn al-khuluq. Al-Ghazali menyatakan “al-khuluqu ‘ibâratun ‘an haiatin fi al-nafsi râsikhatin ‘anhâ tashduru al-af’âl bi suhûlatin wa yusrin min ghairi hâjatin ilâ fikrin wa rawiyyatin -- Akhlak adalah suatu keadaan atau sifat yang tertanam kuat dalam diri, yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah dan ringan, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan terlebih dahulu”.

Selanjutnya al-Ghazali menyatakan “fa in kânat al-haiatu bi haitsu tashduru ‘anhâ al-af’âl al-jamîlatu al-mahmûdatu ‘aqlan wa syar’an sumiyat tilka al-haiatu khulqan hasanan, wa in kâna al-shâdiru ‘anhâ al-af’âla al-qabîhata sumiyat al-haitatu al-latî hiya mashdaru khulqan sayyiatan -- "Apabila keadaan jiwa tersebut melahirkan perbuatan-perbuatan yang baik dan terpuji menurut akal dan syariat, keadaan itu dinamakan akhlak yang baik. Namun, apabila yang lahir darinya adalah perbuatan-perbuatan buruk, keadaan  diri yang menjadi sumber tersebut dinamakan akhlak yang buruk." Perhatikan ungkapan “al-haiatau al-latî hiya al-mashdaru – komdisi diri yang merupakan sumber (perbuatan)."

Dengan demikian, pernyataan bahwa akhlak merupakan mashdar al-af‘âl  mempunyai dasar yang kuat dalam pemikiran al-Ghazali. Meskipun frasa al-mashdar merupakan perumusan ringkas, dan kata al-maṣdar memang digunakan secara eksplisit dalam teks Beliau. Akhlak Bukan Perbuatan, Melainkan Sumber Perbuatan

Imam al-Ghazali juga menegaskan. Wa laisa al-akhlâq íbâratan áni al-fi’li -- "Akhlak bukanlah perbuatan itu sendiri."

Beliau kemudian menjelaskan bahwa seseorang mungkin memiliki sifat dermawan, tetapi tidak sedang memberikan hartanya karena tidak mempunyai harta atau terdapat halangan. Sebaliknya, seseorang yang memiliki sifat kikir mungkin memberikan harta karena dorongan tertentu atau karena riya. Artinya, perbuatan yang tampak tidak selalu mencerminkan secara langsung sifat hati yang menetap dalam diri seseorang.

Menurut al-Ghazali, akhlak merupakan kondisi diri yang membuat seseorang cenderung melakukan suatu perbuatan dengan mudah. Dari uraian yang dikatikan dengan Beliau ini dapat memetakan susun diri dalam kaitan dengan perbuatan, yaitu diri-rasa/akhlaq-perbuatan. Dengan demikian, dalam kerangka pemikiran al-Ghazali, akhlak bukan semata-mata perilaku lahiriah, melainkan disposisi fuâd yang menjadi sumber kecenderungan seseorang untuk berbuat, berperilaku. Stressing yang harus menjadi bahan koreksi bagi sebagian besar yang mengatakan akhlak itu perbutan bahwa, sesungguhnya bukan. Seperti menurut al-Ghazali “al-akhlâqu mashar al-afâ’l wa laisat hiya al-afâ’la nafsahâ -- Akhlak merupakan sumber perbuatan, bukan perbuatan itu sendiri."

  1. Ketiga Qalbu. 

Secara bahasa Qalbu-Qulûb berasal dari akar kata qalaba-yaqlibu-qalban, yang dapat berarti: Membalik, mengubah sesuatu dari satu posisi ke sisi lainnya; Mengubah — menjadikan sesuatu berbeda dari keadaan semula; Berbolak-balik — mengalami perubahan atau pergantian keadaan; Memalingkan, mengalihkan sesuatu dari satu arah ke arah lainnya; Inti atau bagian tengah sesuatu, bagian dalam atau pusat sesuatu.

Satu istiqâq dengan kata qalbu ini kata istiqbâl  yang dapat berarti: Menyambut, menerima kedatangan seseorang; Menghadap, menghadapkan diri ke arah tertentu; Menerima, menerima sesuatu yang datang; Menghadapi, berhadapan dengan sesuatu; Masa depan, dalam konteks waktu, berkaitan dengan sesuatu yang akan datang. Sengaja ini saya ungkapkan, karena nanti ada kerja yang dalam hati itu untuk menghadap Tuhan dalam shalat.

Qalbu sebenarnya nama sifat dari fuâd. Rasa itu berbolah balik, atau berubah misalnya pancaran fuâd ke dalam, dari bagagia ke sedih, dari lembut ke kasar, dari pemaaf ke pendendam, dari baik ke buruk. Saat shalat dalam sembahyang lima waktu sifat hati yang  fuâd  ini berpindah-pinda. Tuntunannya mesti ditempat menghadap Tuhan, qiblat. Telah pun hati telah ada diqiblat, ruh mengangkat takbir, belum selesai tangan melifat si fuâd  sudah berpindah haluan ke arah lain. Mungkin pindah ke pasar, kantor, rumah, dan sebagainya. Saat seperti itu si  fuâd bernama Qalbu.

Dapat kita temukan ungkapan doa dapat kita temukan “yâ muqalliba al-qulâb tsabbit qalbî álâ dînika  wa â’lâ thâátika subhânaka innî kuntu min al-zhâlimîn – wahai Yang membolak-balikkan hati tetapkanlah hatiku atas agama dan taat kepada-Mu, Engkau dalam kesucian sedangkan aku bagian dari orang-orang yang mengikut hawa-nafsu”. Ini menandakan Qalbu itu sifat yang berbolak balik, sehingga dimohonkan untuk tetap dalam agama—pendirian hati kepada Tuhan, dan tetap dalam ketaatan. Dalam konteks doa ini fuâd menjadi sumber perbuatan ruh untuk berpaling dari agama yaitu ingkar.

Kita tampilkan beberapa teks ayat kitab al-Quran, “afalam yasîrû fî al-ardli fatkûna lahaum qulûbun ya’qilûna bihâ aw âdzânun yasmaû’na bihâ fa innahâ lâ ta’mâ al-bshâru walâkin ta’maâ al-qulûb al-latî fî al-shudûr -- "Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan penglihatan itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada” (QS. Al-Hajj [22]: 46).

Dalam Q.s. al-Ra'd [13]: 28 ditampilkan teks ayat “ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ – al-ldzîna âmanû wa tathmainna qulûbuhum bi dzikrillâhi alâ bi dzikrillâ tathmainnu al-qulûb -- orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram, hanya dengan ingat Allah hati menjadi tenrrram. Tentram artinya tidak qalbu tidak sedang bersemayam di dalamnya amrâdl u al-qulub--penyakit hati. Pada teks lain dinyatakan “فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ  -- fî qulûbihim maradlun fa zâdahumullâhu maradlan wa lahum ‘adzâhum ádzâbun alîmun bimâ kânû yakdzibûna --  Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih karena mereka berdusta.(Q.s. l-Baqarah [2]: 10.

Sekali lagi teks-teks ayat kitab al-Quran di atas tidak untuk mengupas tafsirnya, tetapi ditampilkan dalam konteks  fungsi-kerja qalbu fungsi yang berubah-ubah, yaitu menggunakan akal, menggunakan pendengaran, dan menggunakan penglihatan, tentram karena tidak berpenyakit dan ada yang sedang berpeyakit.

Di atas saya sebut bahwa qalbu itu adalah nama sifat dari fuâd – rasa. Jadi fuâd yang benyak jenis prubahannya itu disebut afidah sebagai bentuk kata jamaknya. Seperti termaktub dalam Q.s. al-Sajadah [32]: 9, afidah mersa pada alat panca indra berupa mendengar dengan telinga, melihat dengan mata, merasa pahit-manis dengan lidah, mencuium wang-harum-busuk dengan hidung, mesakan panas-dingin dengan kulit.

  1. Kempat lubb-albâb

Lubb artinya terdalam atau paling dalam dari batin. Batin artinya ada tapi tersembunyi atau di dalam. Nah lubb ini lebih dalam lagi. Batin itu dzat sebgai ni’mat dari Allah. Isi batin itu berupa hati yang melingkupi shadr-fuâd, qalbu, dan lubb. Dzat sebagai ni’mat yang dinugerahkan kepada ruh untuk membedakan dari hewan adalah akal-fikir-khayal-faham-ilmu namnya lubb.  Lubb bagian dari batin, maka berfikir dengan menggunakana akal hanya bisa dilakukan orang yang dianugerahi lubb—albâb (Q.s. Âli Ímrâ [3}: 190).

Lubb--Akal-fikil-khayal-faham-ilmu inilah nanti yang bisa menilai baik-buruk peraktek oleh berupa kelakuan ruh. Yang memberi nilai atau bobot yang bisa dirasakan dari suatu warna pada peraktek ruh dengan fuâd menggunakan alat panca indra adalah lubb. Yang menyatakan baik-buruk, sedih-bahagia, dan seterusnya adalah  lubb. Apakah nilai itu disembunyikan atau ditampakkan oleh ruh,  lubb  tetap menyatakan itu.

Kita cek lagi, “الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ – al-ladzîna yastami’ûna al-qaula fa yattbi’ûna ahsanahû ulâika al-ladzîn hadâ humullâhu wa ulâika hum ulû albaâb -- mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat” (Q.s. al-Zumar [39]: 18). Lubb di sini pada lingkupnya yang bernama faham menerima petunjuk dari Allah, sehingga memperoleh pengetahuan—ilmu.

  1. Menerjemah Isi Mengenal Ayat Quran dan Ayat Setan

Sebutan hati dengan lingkupnya shdr-shudûr, fuâd, qalbu, dan lubb itu mencerminkan atau mewakili bathin sebagai sisi dalam dari eksistendi diri. Pada uraian ini akan dikabarkan suara hati yang diejawantah oleh ruh ke dalam perbuatan dan perkataan. Hal ini akan terkait dengan lahir-zhâhir-bhâtin. Batin selalu benar, dan ia yang selalu memberi peringatan kepada ruh saat menjdai insan. Zhîhir atau ruh sedang berada di tengah-tengah. Dia hendak mengadaptirkan diri kepada insan atau kepada batin. Pilihan ruh atau kita inilah yang akan menetukan pernyataan lubb apakah yang keluar itu ayat Quran atau ayat Setan.

Ayat Quran dan ayat Setan ini sebenarnya penamaan dari nurani dan sanubari. Nurani adalah jika ruh dominan atau bahkan seutuhnya mengadaptir diri kepada peringatan atau suara batin yang selalu benar dan jujur. Sedangkan Sanubari dalah jika ruh dominan atau sepenuhnya mengadabtir diri kepada insan—setan, yang selalu berbisik. Nurani itu wujudnya adalah fithrah rûhiyah yaitu sifat siddîq-amânah-tabligh-fathanah. Sedang sanubari wujudnya adalah fithrah insâniyah yaitu hawa-nafsu-dunia-setan.

Kita masuk dalam bahasan ayat. Ada pernyataan dalam kajian hikmah’ “Quran membacakan ayatnya jika ditahu tempat tetapnya ayat”. Qurâan—Kalâm adalah sifat yang menyipati Sifat Dzat. Sifat Dzat adalah Nur Allah, dan Nur Allah itu Muhammad. Ayat itu di di ufuk-ufuk dan di dalam diri (Q.s. Fushshilat [41]:53. Kitab itu ayat yang nyata ada di dalam dada (Q.s. al-‘Ankabût [29]:49). Kapan ayat dibaca oleh Qurân sebagi asal dari ayat itu? Ialah ketika ayat itu dibawa datang oleh ruh dengan hakikat datang kepada Muhammad (Q.s. al-‘Ankabût [29]: 45). Mengapa Muhammad? Ialah karena Muhammad Nur Allah sebagai Shifat Dzât, dan Qurûn—Kalâm itu Shifat yang menyipati Shifat Dzât. Artinya yang Subyek dalah Shifat Dzât—Nur Allah—Muhammad.

Dibawa datang  oleh ruh secara hakikat artinya, yang datang itu wajah ruh atau wajah diri yaitu ingatan. Bagi yang berpengalaman berjumpa dengan Muhammad, maka ingatan itu terkenang Muhammad. Bagi yang belum bertalaqqi, maka ingatan yang harus hadir di tempat hakikat, yaitu di Qiblat – di Baitullah. di sanalah tempat tetapnya ayat itu. Tetap bagaimana? Tentu tetap sebagai ayat Qurân, dan bukan sebagai ayat Setan. Di sana Qurân membacakan ayat untuk ditolong supaya tidak menjadi ayat setan, atau tanda eksisnya setan pada perkataan dan perbutan ruh melalui jasadnya.

Saat ruh tampil dengan pilihan terhadap Nurani—fithrah rûhiyya, maka saat itu eksis ayat Qurân. Tetapi jika pilihan ruh perpihak kepada Sanubari – fithrah insaniyah, maka saat itu yang eksis ayat Setan.

  1. Kesimpulan

Sebutan hati dalam bahasa Indonesi menimbulkan kerancuan, jika tidak dirinci lingkup, fungsi dan kerjanya. Kerancuan itu akan hilang jika kita berkenan secara detil berikhtiar dan menerima isi uraian di atas. Lapisan eksistensi diri terdiri dari lahir—jasad, zhâhir, bhûtin. Adapun asad melahirkan insan –- hawa-nafsu-dunia-setan. Sedangkan ruh melazimi-menuruni-mewarisi sifat asalnya –- shiddî-amânah-tablîgh-fathanah. Dua fitrah inilah yang menjadi nilai ayat, apakah sebagai ayat Quran atau sebagai ayat Setan.

Kiranya dengan uraian di atas kita diperkennkan oleh Allah untuk mendapatkan karunia kefahaman tentang isi dan rung lingkup batin, sehingga dapat kita eksis dengan mengabtir diri kepada Nurani secara maksimal, jika dikarunia kekutan bahkan secara seutuhnya. Juga dikarunia kemampuan untuk memeinimalisir adaptasi diri kepada Sanubari. Namun demikian, selagi hanyat dikandung badan, maka Nurani dan Sanubari ini akan menjadi dua kutub yang tarik-menarik. Maka di sinilah kita harus senantiada menggapai Ridla Allah dan meraih isti’ânah-Nya.

Untuk isti’ânah ini, sampai jumpa pada tulisan berikutnya tentang “Khuysu’ Inti Shalat”.