Apakah Mengenal Tubuh Berarti Mengenal Diri?

Banyak orang mengira bahwa mengenal diri berarti mengenal tubuhnya sendiri. Ketika seseorang ditanya, "Siapakah dirimu?", yang segera ditunjuk adalah tubuhnya: wajahnya, tangannya, kakinya, dan seluruh anggota badannya. Padahal, apakah benar bahwa tubuh itulah diri kita yang sesungguhnya?

Tubuh hanyalah sekumpulan materi yang tersusun menjadi satu kesatuan biologis. Ia tidak dapat bergerak dengan sendirinya apalagi menentukan ke mana harus bergerak. Ia tidak dapat berbicara dengan sendirinya menentukan apa yang harus dikatakan. Ia memiliki otak, tetapi keberadaan otak belum dengan sendirinya menjelaskan siapa subjek yang berpikir.

Ketika manusia tidur, tubuh tidak lagi memiliki kesadaran dan aktivitas responsifnya. Ketika manusia mati dunia, tubuh yang sebelumnya hidup berubah menjadi jasad yang tidak lagi memiliki daya kehidupan. Tubuh itu kemudian menjadi bangkai. Lantas, jika tubuh bukan subjek yang sesungguhnya, siapakah yang selama ini kita sebut sebagai diri?

Tubuh sesungguhnya merupakan kendaraan bagi aktualisasi diri. Ia adalah wadah tempat berlangsungnya berbagai aktivitas kehidupan, tetapi bukan hakikat diri pada manusia. Untuk memahami persoalan ini, kita perlu membedakan tiga pengenalan: jasad, insan, dan diri. Ketiganya berhubungan, tetapi tidak identik.

1. Jasad: Asal Kejadian Tubuh Manusia

Al-Qur'an menjelaskan bahwa kejadian manusia memiliki hubungan dengan tanah, air, dan proses reproduksi melalui laki-laki dan perempuan seperti beberapa teks al-Quran berikut Allah berfirman:"Wa laqad khalaqnā al-insāna min sulālatin min ṭīn--Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati yang berasal dari tanah (QS. al-Mu'minun [23]: 12); Dalam Q.s. al-Sajdah [32]: 8 dijelaskan bahwa keturunan manusia berasal dari saripati air yang hina; selanjutnya air yang hina itu di pancarkan dari tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan (Q.s. al-Thariq [86):5-7.

Inilah yang dalam perspektif biologis, tubuh manusia terbentuk melalui proses reproduksi yang melibatkan laki-laki dan perempuan, dan ini yang Allah  menegaskannya dalam Q.s. al-Hujurat [49]: 13 bahwa manusia diciptakan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan.

Dengan demikian, jasad manusia memiliki asal kejadian material. Ia berasal dari unsur-unsur alam dan mengalami proses biologis hingga menjadi tubuh yang utuh. Namun, apakah penjelasan tentang asal kejadian tubuh telah menjelaskan seluruh hakikat manusia? Tentu belum. Sebab, menjelaskan bahan pembentuk tubuh tidak otomatis menjelaskan siapa yang hidup melalui tubuh tersebut.

2. Tubuh Bukan Insan: Membedakan Wadah dan Isi

Ada perbedaan mendasar antara tubuh manusia dan manusia itu sendiri.

Tubuh adalah wadah, sedangkan manusia yang sesungguhnya tidak dapat direduksi hanya menjadi wadah tersebut. Ibarat sebuah botol minuman, botol bukanlah air yang berada di dalamnya. Botol dapat terbuat dari plastik, kaca, atau logam, sementara isinya dapat berupa air. Keduanya berada dalam satu kesatuan, tetapi mempunyai pengertian atau wujud yang berbeda.

Demikian pula tubuh manusia. Tubuh bukan keseluruhan manusia. Ia merupakan wadah tempat berlangsungnya kehidupan.

Dalam tulisan terdahulu, Yang Berpikir Bukan Otak, telah diuraikan tiga lapis eksistensi manusia, yaitu lahiriah atau jasadiah, zhahiriah, dan bathiniah. Pada lapisan jasadiah, terdapat susunan basyar, jasmaniah, dan jasad utuh. Karena itu, mengenal struktur tubuh insan belum berarti mengenal insan. Bahkan, mengenal insan pun belum tentu berarti mengenal diri. Kita harus melangkah lebih jauh untuk memahami apa yang sesungguhnya disebut insan dan apa yang disebut diri.

3. Insan sebagai Rahasia yang Mengiringi Kejadian Jasad

Dalam bangunan pemikiran yang saya kembangkan, manusia atau insan tidak hanya dipahami sebagai tubuh biologis. Insan merupakan sesuatu yang bersifat immaterial, yang keberadaannya berkaitan dengan rahasia kejadian jasad. Dalam perspektif kajian ilmu hikmah yang menjadi landasan uraian ini, terdapat ungkapan ungkapan hadis yang dimuat dalam kitab al-rahmah fī al-tibbi wa al-hikmah oleh al-Syuyuthi “Khalaqallāhu al-insāna min arba'ati asyā'in: mina al-rīḥi, wa al-mā'i, wa al-ṭīni, wa al-nāri – Allah menjadikan insan dari empat sesuatu (terahasia) yaitu rahasia dari angin, air, tanah, api”. Keempat rahasia tersebut: Ruh Raihan, sebagai rahasia angin; Ruh Rahmani, yang menjadi rahasia air; Ruh Jasmani, yang sebagai rahasia tanah; dan Ruh Idlâfi, yang menjadi rahasia api.

Dalam kerangka kajian ini, empat rahasia tersebut dihubungkan dengan pembentukan sifat-sifat yang mengiringi asal kejadian manusia itu. Dari sinilah muncul empat sifat dasar yang saya sebut sebagai Hawa, Nafsu, Dunia, dan Setan (H-H-D-S).

4. Hawa, Nafsu, Dunia, dan Setan (HNDS)

Empat sifat tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.

Pertama, Hawa: Sifat Pantang Kelintasan.

Mengapa dalam diri manusia terdapat hawa yang berupa sifat pantang kelintasan?

Dalam pemaknaan empat rahasia kejadian tadi, hal itu dihubungkan dengan rahasia angin atau Ruh Raihan yang memenuhi seluruh rongga tubuh manusia. Hawa merupakan kecenderungan untuk tidak ingin didahului, tidak ingin dilewati, dan tidak ingin kehilangan posisi.

Kedua, Nafsu: Sifat Pantang Kerendahan.

Mengapa manusia mempunyai nafsu berupa sifat pantang kerendahan?

Dalam pemaknaan tersebut, hal ini dihubungkan dengan rahasia air atau Ruh Rahmani yang berwujud urat, benak, dan tulang dalam tubuh manusia. Nafsu melahirkan kecenderungan untuk mempertahankan kehormatan, kedudukan, dan harga diri, bahkan ketika harus mengorbankan kebenaran.

Ketiga, Dunia: Sifat Pantang Kekurangan.

Mengapa manusia memiliki kecenderungan untuk tidak ingin kekurangan atau sifat dunia/al-dunya? Hal ini dihubungkan dengan bahwa rahasia tanah atau Ruh Jasmani yang wujud menjadi daging, kulit, dan bulu atau roma pada tubuh manusia. Dari kecenderungan ini lahir keinginan untuk memiliki, menguasai, mengumpulkan, dan menikmati berbagai hal yang bersifat material, termasuk lahirnya sifat kikir.

Keempat, Setan: Sifat Pantang Kalah.

Mengapa manusia memiliki sifat pantang kalah? Dalam pemaknaan empat rahasia tersebut, hal ini dihubungkan dengan rahasia api atau Ruh idlãfi yang berwujud menjadi darah dalam tubuh manusia. Sifat pantang kalah merupakan kecenderungan untuk selalu ingin unggul, tidak mau mengalah, dan mempertahankan kemenangan sekalipun harus mengorbankan orang lain.

Keempat sifat ini merupakan induk berbagai kecenderungan buruk dalam diri manusia.

5. Setan Bukan Sekadar Sosok, tetapi Juga Sifat

Salah satu hal penting yang perlu direnungkan adalah pengertian dan wujud setan. Selama ini, setan lebih sering dibayangkan sebagai sosok makhluk yang berada di luar diri manusia. Padahal, dalam pendekatan kajian hikmah ini, setan juga dipahamkan kepada kita sebagai sifat yang bersemayam dan bekerja dalam diri manusia.

Sifat pantang kalah atau Setan menjadi akar yang melahirkan sifat-sifat lainnya. Karena tidak mau kalah, seseorang tidak ingin didahului. Karena tidak mau kalah, seseorang tidak ingin direndahkan. Karena tidak mau kalah, seseorang tidak ingin kekurangan.

Dengan demikian, keempat sifat HNDS memiliki hubungan yang saling berkaitan dan berpusat pada kecenderungan mempertahankan keunggulan diri.

Dalam konteks ini, setan tidak hanya dipahami sebagai kecenderungan buruk yang dapat tumbuh dan bekerja di dalam diri manusia, tetapi Setan adalah biang dari sifat lainnya dalam HNDS itu.

Jadi, INSAN itu HNDS, dan HNDS itu adalah SETAN. Itu adalah sifat dan bukan sosok. Nanti teks al-Quran menguraikan bahwa INSAN itu adalah sifat kufur.

6. Fakhsyā' dan Munkar: Perkembangan Sifat Buruk Manusia

HNDS merupakan gambaran umum tentang induk sifat buruk, di mana induk HNDS itu adalah SETAN. Dalam perkembangannya, sifat-sifat tersebut dapat berkolaborasi dan melahirkan berbagai perilaku tercela. Apabila nafsu, yakni sifat pantang kerendahan, bergabung dengan Setan, yakni sifat pantang kalah, maka lahirlah kecenderungan emosional: mudah marah, mudah tersinggung, merasa direndahkan, dan sulit menerima kritik. Kecenderungan ini dalam uraian pemikiran tersebut dikaitkan dengan fakhsyā'. Ini yang disebut dengan nafs ammãrah yang selalu menyuruh kepada keburukan (Q.s. Yusuf [12]: 53.

Sementara itu, apabila hawa, yakni sifat pantang kelintasan, bergabung dengan dunia, yakni sifat pantang kekurangan, maka lahirlah berbagai sifat seperti:

  • 'Ujub atau membanggakan diri.

  • Riya atau ingin dipuji.

  • Takabbur atau membesar-besarkan diri.

  • Iri, tak suka melihat orang lain lebih dari dirinya

  • Dengki, mewujudkan sifat iri di dalam hatinya, yaitu action berupa, berikutnya ini, yaitu

  • Menghasut, mencari krue supaya orang lain mengiut iri seperti dirinya

  • Fitnah, mendatangkan ujian dan cobaan kepada orang lain dengan mengatakan sesuatu yang orang lain itu tidak memperbuatnya.

  • Tamak, tak pernah cukup dengan yang ada

  • Loba, ini lebih dari tamak menjadi rakus.

  • Sombong, .erasa lebih unggul daripada orang lain.

Sepuluh maksiat batin ini yang disebut nafs lawwáh (Q.s. al-Qiyanah [75]:2). Kumpulan kecenderungan tersebut inilah disebut dengan munkar.

Ammãrah dan Lawwâmah ini yang kita dapat memahami relevansinya dalam keterangan teks firman Allah dalam Q.s. l-'Ankabut [29]: 45: "Inna al-ṣhalāta tanhā 'anil-faḥsyā'i wal-munkar -- sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”. Jika ammãrah dan lawwânah itu belum tercefah dengan Shalat yang kita lakukan, maka harus bertanya lanjut: Apakah Allah tak tepat janji, atau kita yang belum mengerti shalat. Karena tidak sedikit orang yang mengira bahwa Shalat merupakan persembahan material yang berupa rukun qauli dan rukun fi’li. Pada posisi ini, mengenal diri menjadi sangat urgen. Pada tulisan berikutnya, akan diuraikan “Mengenal Diri Syarat Mengenal dan Menyembah Allah”.

7. Diri Bukan Jasad dan Bukan Insan

Setelah kita diberi pemahaman tentang jasad dan insan, kini kita sampai pada persoalan yang lebih mendasar: siapakah diri kita yang sesungguhnya?

Dalam konstruksi kajian ini, diri bukanlah jasad dan bukan pula insan. Jasad merupakan materi. Insan dipahami sebagai sifat immaterial yang mengiringi kejadian jasad. Sementara diri berada pada tingkat eksistensi yang lebih immaterial lagi.

Kita adalah ruh yang menjadi subjek bagi aktualisasi kehidupan melalui tubuh.

Dengan kata lain, tubuh merupakan wadah, insan merupakan kumpulan kecenderungan sifat yang menyertainya, sedangkan ruh merupakan subjek yang mengaktualisasikan kehidupan. Teks al-Qur'an memberikan petunjuk tentang dimensi ruh dalam Q.s. al-Sajdah [32]: 7–9. Setelah menjelaskan proses penciptaan manusia bahwa Adam dari tanah dan anak cucu Adam dari saripati air yang hina, Allah menerangkan "tsumma sawwâhu aa nafakha fīhi min rūḥihī -- kemudian Dia-Nya Allah menyempurnakannya (kejadian imsan)  dan meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Nya”.

Ayat ini mengantarkan kita pada pemahaman bahwa kehidupan manusia tidak dapat dijelaskan hanya melalui susunan material tubuh. Ruh merupakan persoalan yang memiliki kedudukan tersendiri dalam penciptaan manusia. Oleh karena itu, ruh ini menjadi urusan khusus Allah, dan hanya Allah yang dapat mengurusnya, dan yang mengenal atau memiliki pengetahuan tentang ruh ini hanya sedikit orang (Q.s. al-Isra' [17]: 85. Dalam kerangka kajian ini, ruh dipahami sebagai diri yang menjadi subjek, sementara jasad dan berbagai kecenderungan insan merupakan wilayah aktualisasi kehidupan.

Bagaimana membedakan diri dari insan? Diri adalah ruh, dan ruh itu namanya mukmin berdasarkan keterangan asalnya ruh seperti hadis-hadis di atas. Insan adalah sifat yang lahir mengiringi penciptaan jasad, yaitu sifat dari empat anasir yang kemudian menjelma dalam rinciannya menjadi tiga belas maksiat batin yang digolong kepada dua jenis sifat diri yaitu nafs ammârah dan lawwâmah seperti uraian di atas. Untuk membedakan ada eksistensi ruh, maka kita harus mengenal sifat yang dibawa oleh swbagai bawaan dasarnya.

Ruh memiliki sifat bawaan dasar, disebut fithrah rūhiyah. Wujudnya adalah shiddīq, amãnah, tablīgh, fathanah. Sifat ini melazimi, menuruni, dan mewarisi sifat asalnya yaitu Nur Allah yang tak lain adalah Ruhaniahnya Kanjeng Nabi Muhamnad. Ruhaniah Kanjeng Nabi itu adalah Subyek dari tubuh kenabiannya adalah disebut Rasulullah Saw.

Shiddīq artinya benar, jujur. Dalam diri ini ada sifat yang selalu benar, selalu jujur. Walau yang berbuat tidak baik adalah dirinya sendiri, di dalam sana tetap dikatakan tidak benar, dan tidak dikatakan sebaliknya. Mengapa dia beraifat shiddīq? Oleh karena dia amânah Allah. Dia dipercaya oleh Allah untuk menyertai diri ruh. Dengan sifat shiddīq dan amãnah ini, dia melakukan tablīgh, yaitu menyampaikan semua catatan yang apa yang diperbuat oleh ruh atas jasadnya. Baik perbuat itu benar maupun salah. Di sampaikan ke mana? Disampaikan kedalam hatinya di dalam dadanya. Di sana tertulis semua rekam jejak dari semua perbuatan ruh, perbuatan kita.

Tulisan itu bernama kitâb. Kitab itulah yang diperintah oleh Teks al-Quran dalam Q.s. al-Isrâ [17]:14 “iqra kitãbaka kafâ binafsika al-yauma ‘alaika hasīban – baca catatanmu, sukuplah dirimu sendiri saat ini menghitung diri”. Kitab itu, catatan itu tidak pernah bengkok – walam yaj’al lahū ‘iqajan (Q.s. al-Kahfi [18):1. Pada rangkaian teks ayat al-Quran Q.s. al-‘Ankabūt [29): 45-49, jika kita datang kepada Rasul, maka Rasul membacakannya sebagai ayat. Di ayat 49 di sebut “bal huwa ãyãtun bayyinãtun fī shudūr al-ladzīna ūtū al-‘ilma –kitab itu bahkan ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi pengetahuan”.

Berikutnya fathanah, ialah sifaf cerdas yang melahirkan sifat bijaksana. Kita yang telah membaca semua catatan di dalam dada ini atas semua rekam jejak kita selama hidup di permukaan humi dalam dunia ini, kita pasti sangat bisa menghitung dan menilai baik-burunya diri kita sendiri. Pada saat itu kita boleh jadi telah mengetahui bahwa ternyata kita tidak lebih baik dari orang lain. Di saat itulah kita telah menjadi orang yang paling cerdas, seperti kata hikmah dari Sayyidina Ali bahwa, secerdas-cerdasnya orang adalah yang mengetahui kekurangannya sendiri. Pada saat itu, kita tak kan mudah menghakimi orang karena kesalahan dan kekurangannya. Maka itulah orang yang bijaksana.

Dengan beberapa uraian ini, kiranya telah benderang bedannya insan dari ruh atau mukmin melalui mengenal sifat keduanya masing-masing. Ajaibnya, kedua jenis sifat itu ada dalam satu dada kita. Sehingga jika nurani kita tidak tertutup, maka dengan mudah dapat merasakan perbedaan itu. Pada setiap kita hendak actinon sesuatu baik dalam perkataan maupun perbuatan, dua sifat itu pasti menempel. Maka kitalah yang memilihnya, dan yang mana yang mau kita tampilkan.

8. Jika Insan Adalah HNDS, Siapakah yang Menggerakkannya?

Pertanyaan ini merupakan salah satu titik penting dalam pembahasan kita. Jika jasad bersifat pasif, dan insan merupakan sifat-sifat yang menyertai kejadian jasad yang juga bersifat pasif, maka siapakah yang menggerakkan keduanya?

Jika sifat-sifat HNDS muncul dalam perkataan dan perbuatan manusia, siapakah subjek yang mengaktualisasikannya? Dalam pemikiran ini, jawabannya adalah ruh.

Ruh merupakan subjek yang mengaktualisasikan berbagai potensi kehidupan. Ia dapat mengarahkan kecenderungan manusia kepada kebaikan, tetapi ruh juga dapat membiarkan dirinya untuk mengaktualkan hawa yang pantang kelintasan, nafsu yang pantang kerendahan, dunia yang pantang kekurangan, dan setan yang pantang kalah.

Supaya argumennya pas, maka perlu kita buktikan bahwa yang subyek atau yang menggerakkan jasad dan sifat insaniyah atau hawa-nafsu-dunia-setan itu adalah ruh. Ada teks ayat al-Quran yang menerangkan “Allâhu yatawaffa al-anfusa hîna mautiha wallatī lam tamut fī manãmihã fayumsiku al-latī qadlã ‘alaihâ al-mauta wa yursilu al-ukhrã ilâ ajalin musammã inna fī dzãlika laâyâtin liqawmin yatafakkarūn—Allah mewafat [menahan] semua diri saat kematiannya dan yang belum mati dalam tidurnya, ditahannya betul yang telah ditetapkan kematiannya dan yang lain dikembalikan sampai waktu tertentu, sesungguhnya pada yang demikian itu sebagai ayat bagi kaum yang berfikit (Q.s. al-Zumar [39)]: 42)

Wafat artinya diri atau ruh tertahan atau tidak ada di dalam jasad. Terjadi pada saat kematian atau dalam tidur. Artinya pada waktu kematian dan tidur ruh tidak di dalam jasad. Perhatikan teks ayat Q.s. al-Sajadah [32]:9 bahwa dengan ditiupkannya ruh oleh Allah untuk menyempurnakan kejadian manusia dalam jasadnya. Lalu dengannya ada pada  kamu pendengaran, penglihatan, dan rasa.

Kembali ke wafat tadi, saat kematian dan tidur di mana ruh tidak adab dalam tubuh, apakah telinga bisa mendengar? Tidak. Apakah mata bisa melihat? Tidak. Apalah hidung biasa merasa bau? Tidak. Apakah lidah bisa mencicipi? Tidak. Apakah sekujur tubuh bisa merasa sakit, panas, dingin? Apakah orang tidur atau mati bisa marah, ketawa, sedih, benci, dendam, menghasut, mencuri, seminar, pidato, dan sebagainya? Tidak. Kapan semua itu bisa aktif kembali? Ialah pada saat ruh di kembali pada subuh hari bangun dari tidurnya bagi yang belum ditetapkan kematiannya. Nah, terbuktilah bahwa yang mendengar, yang melihat, dan merasa itu adalah ruh. Inilah yang disebu bahwa ruh yang subyek.

Karena itu, persoalan manusia bukan sekadar bagaimana menjaga tubuh agar tetap sehat, melainkan bagaimana mengendalikan sifat-sifat yang menguasai kehidupannya. Di sinilah muncul pertanyaan lanjutan: Jika JASAD pasif, INSAN/HNDS/SETAN juga pasif, lalu siapakah Iblis sesungguhnya dalam hubungan dengan sifat-sifat tersebut? Ketahuilah bahwa SETAN itu nama bisikan dan nama perbuatan Iblis. Juga ketahuilah, jika dapat memahami siapa yang aktif sebagai subyek yang menggerakkan INSAN/HNDS/SETAN, maka sesungguhnya, dia telah dapat memahami siapa IBLIS dalam the real fact.

9. Ruh, Nur Allah, dan Hubungan dengan Muhammad

Dalam kajian ini, pembahasan tentang ruh kemudian membawa kita kepada kajian untuk memahami Nur Allah Yang Dia adalah Muhammad. Dalam kerangka kajian yang saya uraikan ingin, ruh manusia memiliki asal spiritual yang berhubungan dengan Nur Allah atau Muhammad, awas! Sekali lagi saya gariskan bahwa kajian tentang ruh dan Nur Allah adalah kajian dalam dimensi Non Jasadi.

Kajian tentang hubungan pada sub judul di atas adalah dapat diuraikan seperti berikut: Kita adalah ruh yang aktif atau subjek atas tubuh dan insan sebagai sifat. Asal nama ruh atau kita adalah mukmin. Ini yang dimaksud mukmin itu bersaudara (Q.s. al-Hujurat [49]:10). Karena ruh itu satu asalnya yaitu Nūr Allah. Nūr Allah itulah Muhammad, awas! Ini kajian dalam dimensi non jasadi.

Di alam Nūr sebelum jasad Beliau wujud, Beliau berkata "anâ nūrullâh wa al-muminūna minnī -- Aku Nur Allah dan mukmin dari Aku", "anâ minallãh wa al-muminūna minnī --Aku dari Allah dan mukmin dari Aku",  "anâ abu al-arwâh wa âdama abū al-basyar--Aku bapak semua ruh dan Adam bapak segala tubuh".   Jika jasad insan dan insan dari kedua ibu-bapak, maka ruh atau kita dijadikan dari Nur Allah, dari Muhammad. Maka ruh itu wujudnya juga cahaya (Q.s. al-Syūrã  [42]:52). Jika ruh non jasadi maka Nur Allah atau Muhammad juga non jasadi. Pada Muhammad, yang jasad itu disebut Jasad Kenabian, dikenallah jasad itu sebagai nabi Muhammad. Jika jasad Syarif tidak  Syarif, jasad Muhammad tidak Muhammad. Jika Syarif ruh, maka Muhammad Bapaknya ruh wujud dari Nur Allah. Maka oleh karena itu beda antara ruhaniah dari jasad Syarif dan ruhaniah nabi Muhammad. Ruhanihnya jasad Syarif adalah ruh, sedangkan ruhaniahnya jasad atau nabi Muhammad adalah Nur Allah. Inilah yang membedakan antara Beliau dan nabi-nabi yang lain. Beliau bergelar shallallãhu 'alaihi wa sallama, nabi-nabi yang lain bergelar 'alaihis salam. Itu karena beda isi dadanya. Isi dada Beliau adalah Nur Allah, sedang isi dada nabi-nabi yang lain adalah Ruh yang berasal dari Beliau. Dengan kata lain, ruh atau diri kita dan ruh para nabi itu sama-sama dari Nur Allah yang bernama Muhammad.

Kepada ruh atau kita dianugerahkan dzat-ni'mat-rasa oleh Allah, yang pada tulian sebelumnya disebut sisi terdalam atau bãthin. Ruh atau diri kita dari Nur Allah, dzat pada kita dari pada Allah. dzat-ni'mat-rasa pada kita, sudah diuraikan pada tulisan terdahulu dalam judul "Yang Befikir Bukan Otak.

Pada tulisan berikutnya, "Mengenal Diri Syarat Mengenal dan Menyembah Allah".

10. Mukmin sebagai Persaudaraan Ruhaniah

Al-Qur'an menegaskan dalam Q.s. all-Hujurat [49]: 10: "Innamal-mu'minūna ikhwah -- Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara”. Persaudaraan ini tidak dibaca sebagai hubungan sosial, tetapi mengandung dimensi spiritual yang sangat mendalam, antar mukmin atau antar ruh itu merupakan persaudaraan se-asal, atau kalau dalam bahasa jasadiahnya adalah sersaudaraan se-bapak.

Maka ruh pada manusia memiliki hubungan asal spiritual yang sama. Karena itu, persaudaraan sesama ruh tidak semestinya dibatasi oleh perbedaan suku, bangsa, kedudukan, identitas lahiriah, dan bahkan agama. Ini yang saya namakan dengan ukhuwwatun ilâhiyatun – persaudaraan se-Tuhan.

Jika manusia memahami bahwa dirinya bukan sekadar tubuh, maka ia tidak akan mudah merendahkan orang lain berdasarkan perbedaan kelompok jasadiah. Ia akan melihat bahwa di balik tubuh yang berbeda terdapat kehidupan batin yang satu asal dan harus dihormati. Pemahaman ini seharusnya melahirkan kerendahan hati, kasih sayang, persaudaraan, dan kesadaran bahwa kita tidak layak menyombongkan dirinya atas yang lain.

Penutup: Mengenal Jasad Belum Berarti Mengenal Diri

Dari seluruh uraian di atas, kita dapat menarik satu pemahaman mendasar: mengenal jasad bukan berarti mengenal insan, dan mengenal insan belum tentu berarti mengenal diri. Jasad adalah tubuh material yang menjadi kendaraan kehidupan. Insan, dalam konstruksi kajian ini, merupakan dimensi sifat yang menyertai kejadian tubuh, dengan HNDS sebagai gambaran induk kecenderungan negatifnya. Sementara diri adalah ruh yang menjadi subjek aktualisasi kehidupan. Maka ruh yang harus bertanggung jawab atas semua apa yang terjadi di permukaan bumi ini.

Karena itu, manusia tidak boleh berhenti pada pengenalan tubuh. Ia harus bergerak menuju pengenalan yang lebih mendalam tentang hakikat dirinya.

Jangan sampai sepanjang hidup kita hanya sibuk merawat jasad, tetapi tidak pernah mengenal siapa sesungguhnya diri kita.

Kita mungkin mengenal wajah tubuh, mengetahui nama sendiri, memahami susunan tubuh sendiri, bahkan mampu menjelaskan berbagai aktivitas otak sendiri. Namun, apakah kita telah mengenal mengenal wajah diri yang sesungguhnya? Tentu wajah tubuh kita bukan wajah kita.

Inilah pertanyaan yang harus terus direnungkan. Mengenal jasad adalah mengenal wadah. Mengenal insan adalah mengenal sifat. Mengenal diri adalah menelusuri ruh yang menjadi subjek kehidupan. Maka dari pengenalan diri itulah kita akan melangkah kepada pembahasan berikutnya:

"MENGENAL DIRI: SYARAT MENGENAL DAN MENYEMBAH ALLAH."