Pendahuluan

Siapakah Sesungguhnya yang Menyembah Allah?

Dalam pelajaran tauhid dikenal suatu prinsip bahwa Allah tidak tersusun dari unsur-unsur jasmani atau materi. Prinsip tersebut dapat dirumuskan melalui ungkapan: “Fallāhu laisa murakkaban min al-ajsāmi wa lā min al-ajzā’ -- Allah tidak tersusun dari tubuh-tubuh material maupun bagian-bagian penyusun”. Dalam ungkapan senada disebut “fallâhu laisa lahū ‘anâshirun min al-ajsãm – Allah tidak memiliki unsur-unsur materi”.

Pada saat yang sama, manusia diperintahkan untuk menyembah Allah. Bagaimana manusia dapat menghadapkan dirinya kepada Allah, sementara Allah bukanlah wujud material yang dapat dijangkau melalui perangkat jasmaniah? Apabila manusia hanya mengenal dirinya sebagai seonggok jasad yang tersusun dari kulit, daging, darah, tulang, dan otak, maka pengenalannya belum menjangkau keseluruhan eksistensi dirinya.

Jasad dan insan merupakan bagian kehidupan dari diri. Dalam pandangan Ilmu Hikmah yang dikembangkan dalam tulisan ini, jasad bukanlah subjek terdalam yang sebagai wujud menyembah, melainkan perangkat. Adapun subjek yang mempergunakan perangkat tersebut ialah diri yang bersifat ruhaniah. Karena itu, mengenal diri bukan sekadar mengetahui struktur tubuh dan fungsi organ manusia. Mengenal diri berarti menelusuri hakikat subjek yang hidup, sadar, mengingat, mengenal, dan menghadap kepada Allah.

Tanpa pengenalan terhadap hakikat tersebut, seseorang mungkin telah melaksanakan aktivitas penyembahan secara lahiriah—secara syariat, tetapi belum tentu mencapai ril penghambaan secara batiniah. Dalam konteks inilah, mengenal diri menjadi persoalan mendasar dalam Ilmu Hikmah.

  1. Enam Pertanyaan Mendasar dalam Penyembahan kepada Allah

Untuk mendapat kepahaman hakikat penyembahan, terdapat enam pertanyaan mendasar yang perlu dijawab saat hendak melakukan persembahan: Siapa yang menyembah? Siapa yang disembah? Apa yang dipersembahkan? Di mana tempat menyembah? Bilamana waktu menyembah? Ke mana kembali sembah? Dalam tulisan kali ini, pertanyaan pertama yang akan mendapat stressing mendalam.

Keenam pertanyaan tersebut merupakan satu kesatuan dalam membangun kesadaran penghambaan. Akan tetapi, pertanyaan pertama menempati posisi yang sangat menentukan. Sebab, sebelum seseorang mengetahui bagaimana ia menyembah, terlebih dahulu ia perlu mengenali siapa dirinya yang melakukan penyembahan itu.

Pertanyaan “siapa yang menyembah” bukan sekadar menanyakan identitas biologis, sosial, atau administratif seseorang. Pertanyaan tersebut mengarah kepada hakikat diri sebagai subjek penyembahan. Dalam pembahasan ini perlu dibedakan antara syarat syariat dan syarat hakikat.

Syarat syariat ialah ketentuan yang menentukan sah atau tidaknya pelaksanaan ibadah menurut hukum fikih, seperti bersuci, masuk waktu, menghadap kiblat, dan memenuhi rukun salat. Adapun syarat hakikat dalam tulisan ini ialah prasyarat kehadiran diri mendahului kinerja syarat dan rukun syariat, kemudian tenggelam dalam lautan kekasih Allah sang wasilah, lalu mengalami perjumpaan.

Pengenalan diri disebut sebagai syarat hakikat karena tanpa pengenalan terhadap diri yang menyembah, seseorang dapat terjebak dalam aktivitas lahiriah yang hampa nilai penyembahan di hadapan yang disembah. Syarat hakikat yang dimaksud bukanlah syarat tambahan bagi keabsahan salat menurut fikih, melainkan suatu keharusan dalam kerangka pencapaian makrifat menurut Ilmu Hikmah. Menyertai uraian ini, ada pernyataan di kalangan pengampu sufistik bahwa “a l-syarī’atu bilã haqīqatin ‘ãthilah wa al-haqīqatu bilâ syarī’atin bãthilat – syariat dengan tiada hakikat (tujuan hati) sia-sia dan hakikat dengan tiada sysriat batil-batal”.

  1. Siapakah Diri Sebenarnya Diri?

Dalam terminologi Ilmu Hikmah dikenal ungkapan diri sebenarnya diri. Ungkapan tersebut sebagai jawaban atas pertanyaan “siapa yang menyembah? Yakni diri sebenarnya diri. Siapa diri sebenarnya diri? Yakni mukmin? Sisapa mukmin? Yakni diri atau ruh yang sedang tashdîq di tempat asalnya. Pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban itu dalama rangka memastikan hakikat saat melakukan persembahan telah dicapai.

Hakikat artiya tujuan hati saat hendap melakukan persembahan atau menyembah. Hakikat dalam sembahyang ialah jawaban atas pertanyaan kedua, yaitu “siapa yang disembah? Dzat-Nya Allah swt. Untuk menemukan-Nya, pada tulisan terdahulu telah dijelas tentang Ruh dan Muhammad atau Nur Allah. Dzat atau batin pada kita namanya nikat, pada siapa Dzat bernama Allah, itulah Tuhan yang disembah. Nur Allah adalah Wujud Shifat dari Dzat yang bernama Allah. Fahamnya adalah saat seorang hamba dikarunia perjumpaan dengan Wujud Shifat yang berupa Nur atau cahaya yang tidak berdimensi meter itu, maka sang hamba itu berucap “Allah”. Seperti Adam a.s. saat sedang berpelukan dengan Siti Hawa di jabal Rahmah, hatinya dipandangan akan Nur Sang Maha Cahaya itu, maka Adam a.s. berucap “Allah”.

Jika lebih ingin rinci diuraiakn, memang ada prasyarat untuk menjadi diri sebenarnya diri. Yaitu: mengenal eksistensi diri kaitannya dengan jasad dan insan; mengenal asal penciptaannya, serta mengenal tharîqah – cara kembali dalam penyembahan. Prasyarat ini tidak bisa didapat dengan metode riset ilmiah yang berbasis epistemologi. Karena pengenalan ini berbasis wujud dangan penunjukan dalam petunjuk.

Contoh, untuk mengenal îmân tidak bisa dengan menghafal al-ta’rîfâ min al-îmân. Karena al-ta’rîfât itu bagian dari epistemologi. Definisi iman itu bukan iman. Mengenal iman harus menunjuk wujud, bukan menghafal definisi. Di sini biasnya pelajaran tentang iman dalam kurikulum sekolah atau madrasah, bahkan sampai di Perguruana Tinggi sekalipun, hatta itu Perguruan Tinggi Keagamaan Islam. Semua berbasis definisi lughatan am ishthilâhan.

Siapakah mukmin itu? Dalam pengertian syariat, mukmin ialah orang yang beriman kepada Allah dan perkara-perkara yang diwajibkan untuk diimani. Biasanya pengertian seperti ini dikaitkan dengan identitas kartu pengenal sebagai orang Islam. Adapun dalam kajian hikmah yang dibahas di sini, mukmin adalah ruh yang telah mengenal dirinya, mengenal asal kejadiannya, mengenal Allah yang menjadidkannya, dan sedang hadir di tempat asal di hadapan Allah. Itu sebebnya, diri sebenarnya diri itu wajib secara hakikat terwujud saat hendak melakukan persembahan dalam sembahyang lima waktu. Uraian ini sabenarnya akan berujung pada bahwa “seseorang tidak mengenala diri tidak dapat menyembah Allah secara sempurna”.

Dengan demikian, istilah mukmin dalam pembahasan ini memiliki penekanan spiritual yang lebih khusus daripada pengertian umum keimanan dalam ilmu akidah. Ruh yang belum mengenal hakikat dirinya masih berada dalam perjalanan pengenalan. Ia menjalani kehidupan melalui jasad, berhadapan dengan hawa nafsu, mengalami berbagai kecenderungan duniawi, dan berusaha menemukan kembali kesadaran tentang asal serta tujuan keberadaannya.

Ketika ruh mengenal dirinya, mengenal asal kejadiannya, agaimanmengenal tempat asalnya, mengenal Allah yang menjadikannya, dan  sedang hadir di tempat asal di hadapan-Nya,  maka dalam perspektif ini ia mencapai eksistensi sebagai “diri sebenarnya diri”. Inilah makna terdalam dari ajakan: Kenalilah dirimu sebelum engkau membicarakan bagaimana engkau menyembah Tuhanmu. Bagaimana penerapannya dalam menyembah? Jangan angkat takbir sebelum yang dalam hati tashdîq menyatakan bahwa diri sedang hadir di tempat asal, di hadapan Allah. Tempat asal itu di qiblat.

  1. Mengenal Allah Melalui Pengenalan Diri

Ada ungkapan “maan árafa nafsahû faqad árafa rabbahû – siapa kenal dirinya maka ia dia telah mengenal Tuhannya”. Ungkapan ini ada yang mengatakan hadis dan ada yang mengatakan bukan. Ungkapan ini sangat populer di kalanagan para praktisi sufistik dan para pengampu kajian tauhid. Ungkapan ini sering dinisbatkan kepada Yahya bin Muáadz (w.268H0 seorang tokoh zuhud dan seorang spritualis muslim di abad ketiha hijriah. Saya meyakini ungkapan itu hadis oleh karena, di kalangan kancah sufistik, dalam menentukan hadis selain dengan yang diketeriakan dalam ilmu hadis riwayah dan dirayah, ada yang namanya hadis ahlâm, yaitu perkataan rasul yang diperoleh seorang dari mimpi diajari Rasulullah. Di antaranya, Ibu Arabi menebut kitan Fushush al-hikam itu pemberian atau ajaran langsung dari Rasulullah, dalam mimpinya.

Apkah dengan mengenal diri seseorang secara langsung dapat mengenal Allah? Jawabannya tidak sesederhana itu. Dalam pandangan kajian Hikmah, pengenalan Allah dipahami melalui suatu susunan pengenalan yang bertahap. Manusia tidak dapat menyamakan pengenalan terhadap Allah dengan pengenalan terhadap benda-benda material. Sebab Allah bukan objek empiris yang dapat diperiksa melalui pancaindra, diukur melalui instrumen fisik, atau dijangkau melalui pengamatan material.

Karena itu, pengenalan kepada Allah membutuhkan petunjuk dan wasilah pengenalan. Dalam tradisi spiritual Islam dikenal ungkapan: مَعْرِفَةُ اللّٰهِ بِاللّٰهِ--Ma‘rifatullāhi billāh – mengenal Allah Dengan Allah. Dalam kajian Ilmu Hikmah yang dikembangkan di sini, ungkapan tersebut dipahami melalui susunan pengenalan: mengenal diri, mengenal asal diri, mengenal wasilah pengenalan, kemudian mengenal Allah. Untuk mengenal Wujud Allah, seseorang perlu mengenal apa yang dalam kajian Ilmu Hikmah disebut Wujud yang Dengan Allah.

Sebelumnya saya pengetahuan tentang eksistensi tunggal ini yaitu: ada Wujûd, ialah Yang Ada Mengawali Satu Yang Diadakan; ada Maujûd, ialah Yang Awal Diadakan oleh Wujûd; dan ada wujûd ála maujûd, ialah semua yang ada diasalkan dari Yang Awal Diadakan oleh Yang Ada Mengawali Satu Yang Diadakan. Wujûd ialah Allah, Maujûd ialah Nur Allah – Muhammad, dan wujûd álâ maujûd, ialah segala sesuatu yang ada selain Wujûd dan Maujûd. Yang mutlak untuk dikenali dari wujûd álâ maujûd  adalah diri kita, ialah Ruh. Ruh yang menjadi instrumen utama untuk mengenal Allah.

Untuk mengenal Wujud yang Dengan Allah, manusia perlu mengenal wujud yang berasal dari-Nya. Itu adalah Maujûd  yang dari Allah Dia ada, serti dalam ungkapannya änâ minallâh wa al-mu’minûna minnî – Aku dari Allah dan mukni dari Aku”. Dalam konstruksi kajian ini, Wujud yang Dengan Allah dikenal melalui wujud Nur Allah, yaitu Muhammad. Sedangkan ruh atau diri pada manusia dipahami memiliki hubungan asal ruhaniah dengan Muhammad.

Dengan demikian, pengenalan diri menjadi pintu masuk menuju pengenalan asal diri, kemudian pengenalan Muhammad sebagai asal diri menjadi wasilah, dan akhirnya tercapai “Ma’rifatullah. Tentu perlu kajian lebih panjang dan mendalam.

  1. Perbendaharaan Tersembunyi dan Awal Penciptaan sebagai wasilah

Dalam tradisi spiritual Islam terdapat ungkapan: “Kuntu kanzan makhfiyyan fa-aḥbabtu an u‘rafa fa-khalaqtu al-khalqa likai u‘rafa -- Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, Aku suka untuk dikenal, maka Aku menciptakan satu ciptaan agar Aku dikenal”. Ungkapan ini sering disebut sebagai hadis qudsi dalam literatur tasawuf. Apa yang satu ciptaan itu?

Dalam pembahasan tentang awal penciptaan dikenal ungkapan “awwalu mâ khalaqallâ rūran wa khuliqa kullu syai`in minhu – mula-mula yang dijadikan Allah adalah Nur dan dari-Nya segala sesuatu dijadikan”. Dalam ungkapan hadis ditemukan bahwa awal mula-mula yang dicipta Allah adalah “nūru nabiyyila – Nur Nabimu. Hadis ini ditujukan kepada Jabir. “Awwalu mā khalaqallāhu nūra nabiyyika yā Jābir.--Wahai Jabir, yang pertama kali Allah ciptakan ialah cahaya nabi [ikutan]mu. Riwayat ini sering dikaitkan dengan Jabir bin Abdullah dan dinisbatkan kepada Abdurrazzaq ash-Shan‘ani.

Dalam tradisi spiritual tertentu, konsep Nur Allah yaitu Muhammad dipahami sebagai asal ruhaniah dan simbol kesempurnaan petunjuk kenabian. Dalam kerangka Ilmu Hikmah yang menjadi dasar tulisan ini, Nur Allah yaitu Muhammad dipahami sebagai wasilah pengenalan terhadap Allah dan sebagai asal ruhaniah yang berkaitan dengan hakikat diri pada manusia. Dia adalah sebagi Ruhaniahnya Nabi, maka cocoklah dengan pernyataan Nabi kepada Jabir di atas.

Konsep ini membutuhkan pembedaan teologis yang jelas. Apabila Muhammad dipahami sebagai jasad , maka ia tetap merupakan makhluk Allah, bukan Nur yang dari Allah. Istilah Nur Allah dalam pembahasan ini merupakan istilah metafisik yang perlu dijelaskan secara khusus agar tidak dipahami sebagai penyatuan Allah sebagai dengan makhluk. Dalam Kajian Hikmah, Nur Allah adalah sebagai Wujud Shifat Tajalli. Nur sebagai Tajalli itu dipuji-puji sendiri oleh Allah, maka Wujudlah Nur itu bernama Muhammad.

Apa yang dipujikan kepada Muhammad itu? Dalam tradisi spiritual juga dikenal ungkapan hadis Qudsi: “Lawlāka lamā khalaqtul-aflāk -- Kalau bukan karena engkau, niscaya Aku tidak menciptakan alam semesta”; “khalaqtu al-asyâa li ajlika wa khalatuka li ajli – Aku ciptakan segala sesuatu karena engkau Muhammad dan Aku jadikan engkau karena-Ku”; “laulâka lamã khalaqtu al-aflãq wa lawlãka ma khalaqtu âdama walâ al-jannta walâ al-nâra – kalau tidak karena engkau Muhammad niscaya tidak Aku jadikan jagad raya, kalau tidak karena engkau tidak Aku jadikan Adam, tidak pula surga dan neraka”.

Atas adanya pujian itu Muhammad menjelaskan diri-Nya “Anā nūrullāh wal-mu’minūna minnī, Anā minallāhi wal-mu’minūna minnī, dan Anā abū al-arwāḥ wa Ādamu abū al-basyar – Aku Nur Allah dan mukmin dari Aku, Aku dariAllah mukmin dari Aki, Aku Bapaknya para ruh dan Adam bapak segala tubuh”.

  1. Mengenal Muhammad Melalui Sifat yang Diwarisi dalam Diri

Dalam kajian dengan pendekatan himah Hikmah, pengenalan diri memiliki hubungan dengan pengenalan Muhammad. Hubungan tersebut dipahami bukan sebagai hubungan sejarah antara kaum dan Nabi, atau hubungan darah. Melainkan sebagai hubungan eksistensu ruhaniah yang menjadi bagian dari pembahasan asal-usul diri.

Untuk mengenal Muhammad, seseorang dapat memulai dengan mengenali sifat-sifat utama Rasul. Sifat-sifat itu dilazimi, dituruni, dan diwarisi oleh setiap diri secara nyata dan tidak dapat dibantah.

Namun tegaskan dulu bahwa diri ini bukan jasad. Pada tulisan terdahulu “Mengenal Jasad dan Diri, di poin ketujuh disampaikan bagaimana membedakan ruh dari insan. Untuk membedakannya bahwa ruh membawa sifat asalnya, yakni Nur Allah, yang Nur Allah itu menjadi Ruhaniahnya Nabi Muhammad. Ruh memiliki sifat bawaan dasar, disebut fithrah rūhiyah. Wujudnya adalah shiddīq, amãnah, tablīgh, fathanah. Sifat ini melazimi, menuruni, dan mewarisi sifat asalnya yaitu Nur Allah yang tak lain adalah Ruhaniahnya Kanjeng Nabi Muhamnad. Ruhaniah Kanjeng Nabi itu adalah Subyek dari tubuh kenabiannya adalah disebut Rasulullah Saw.

Shiddīq artinya benar, jujur. Dalam diri ini ada sifat yang selalu benar, selalu jujur. Walau yang berbuat tidak baik adalah dirinya sendiri, di dalam sana tetap dikatakan tidak benar, dan tidak dikatakan sebaliknya. Mengapa dia beraifat shiddīq? Oleh karena dia amânah Allah. Dia dipercaya oleh Allah untuk menyertai diri ruh. Dengan sifat shiddīq dan amãnah ini, dia melakukan tablīgh, yaitu menyampaikan semua catatan yang apa yang diperbuat oleh ruh atas jasadnya. Baik perbuat itu benar maupun salah. Di sampaikan ke mana? Disampaikan kedalam hatinya di dalam dadanya. Di sana tertulis semua rekam jejak dari semua perbuatan ruh, perbuatan kita.

Tulisan itu bernama kitâb. Kitab itulah yang diperintah oleh Teks al-Quran dalam Q.s. al-Isrâ [17]:14 “iqra kitãbaka kafâ binafsika al-yauma ‘alaika hasīban – baca catatanmu, sukuplah dirimu sendiri saat ini menghitung diri”. Kitab itu, catatan itu tidak pernah bengkok – walam yaj’al lahū ‘iqajan (Q.s. al-Kahfi [18):1. Pada rangkaian teks ayat al-Quran Q.s. al-‘Ankabūt [29): 45-49, jika kita datang kepada Rasul, maka Rasul membacakannya sebagai ayat. Di ayat 49 di sebut “bal huwa ãyãtun bayyinãtun fī shudūr al-ladzīna ūtū al-‘ilma –kitab itu bahkan ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi pengetahuan”.

Berikutnya fathanah, ialah sifaf cerdas yang melahirkan sifat bijaksana. Kita yang telah membaca semua catatan di dalam dada ini atas semua rekam jejak kita selama hidup di permukaan humi dalam dunia ini, kita pasti sangat bisa menghitung dan menilai baik-burunya diri kita sendiri. Pada saat itu kita boleh jadi telah mengetahui bahwa ternyata kita tidak lebih baik dari orang lain. Di saat itulah kita telah menjadi orang yang paling cerdas, bijaksana. Sayyidina Ali berujar, secerdas-cerdasnya orang adalah yang mengetahui kekurangannya sendiri. Pada saat itu, kita tak kan mudah menghakimi orang lain karena kesalahan dan kekurangannya. Maka itulah orang yang bijaksana.

Jadi, meyakini adanya Muhammad Rasulullah Saw tidak harus berjibaku dengan kitab-kitab sejarah. Sebab jika daemikian, bagaimana dengan orang yang tidak bisa baca-tulis. Cerita dan tulisan sejarah tidak kekal dalam ingatan. Tetapi jika jejak, sunnah Rasul berupa sifat-sifat itu kita sadari ternyata ada di dalam dada ini, dengan penuh kepastian kita bahwa Muhammad itu Wujud yang sangat nyata. Nyata sifat itu menengur kita saat kita sedang salah.

  1. Bagaima karena mengenal diri dapat menyembah Allah?

Pertanyaan ini adalah inti. Teks al-Quran menerangkan "innanī ana Allah lã ilham illã anã fa'budnī wa aqimi al-shalâ lidzikrī -- sesungguhnya Aku adalah Allah, maka sembahlah Aku, dirikan shalat [hubungan dengan-Ku], supaya ingatan[mu sampai kepada]Aku" (Q.s. Thãhâ [20):14".

Untuk dinilai menyembah Allah, maka hubungkan diri kepada Allah--shalat. Agar dinilai berhubungan dengan Allah, maka ingatan harus sampai kepada-Nya. Pertanyaannya adalah, bagaimana  bisa mengingat Wujud yang tak pernah dilihat? Pernahkah bertemu Allah? Tidak. Pernahkah berjumpa dengan wajah Allah? Tidak. Lalu bagaimana engkau bisa mengaku mengingat Allah, bertemu Allah dan berjumpa wajah-Nya saja tak pernah mengalaminya.

Maka oleh karena itu Allah menyediakan solusi, yaitu menjalankan suruh-Nya datang di rumah-Nya untuk berhubungan dengan-Nya--shalat atau menghubungkan diri kepada-Nya. Dikabarkan dalam Q.s. al-Baqarah [2]: 125 "wa idz ja'alnã al-baita matsâbatan li al-nâsi wa amnan wattakhidzū min maqâmi Ibrahim mushallâ wa 'ahidnã ilâ Ibrahim wa ismâ'īla an thahhirâ baitiya li al-thâifīna wa al-'âkifīna wa al-rukka'i al-sujūd -- dan ingatlah ketika Kami menjadikan Baitullah sebagai tempat menetap bagi manusia [mukmin] dan sebagai [tempat yang] aman, dan ambillah sebahagian dari maqam Ibrahim sebagai tempat shalat dan Kami telah memerintahkan kepada Ibrahim dan Ismail supaya keduanya membersihkan Rumah-Ku untuk orang-orang thawaf, i'tikaf, rukuk, dan sujud".

Sebagahagian maqam Ibrahim yang dimaksud dalam teks ayat di atas adalah bukan tempat berdiri atau maqam Ibrahim yang fisik dikurung emas di sisi ka'bah itu. Pada haji wada' Rasulullah menunjukkan ke dalam. Q.s. al-Hajj [22]:26 menerangkan bahwa Ibrâhim ditempatkan di dalam Bait itu supaya di sana kamu (kita) aman dari mensyarikatkan dengan yang selainnya.

Teks ayat al-Quran ini menunjukan tempat shalat (untuk berhubungan dengan Allah). Dalam konteks judul tulisan ini adalah dalam rangka menyembah-Nya. Selain itu sebagai tempat yang aman, supaya tidak menjadi diri yang bukan sebenarnya diri, aman dari menjadi iblis yang bisikannya bernama setan.

Di kalangan para teolog dan ahli kalam ada perbincangan. Jika Allah memiliki rumah, artinya Allah bertempat. Jika begitu, apa bedanya dengan Makhluk. Perbincangan ini perlu diberikan sharing, yaitu: pertama, bahwa di firman itu Allah sendiri yang mengatakannya "baitiya--rumah-Ku"; kedua,  tidak dikatakan dalam teks ayat itu bahwa Allah tinggal duduk di situ; ketiga, para teolog dan ahli kalam itu terobsesi bahwa Allah itu seperti makhluk yang bertempat tinggal. Dikira juga Rumah Allah itu berwujud benda seperti rumah manusia dan makhluk lainnya; keempat, sesungguhnya Rumah itu untuk menerima persembahan,  sebagai tempat memusatkan pandangan hati, supaya saat mengaku berhubungan Dengan Allah hati semua diri pada manusia tidak sesat ke mana-mana.

Jika Allah itu tidak tersusun dar meteri, maka Rumah-Nya pun tentu immateri. Jika Allah itu ghai, maka tentu rumah-Nya itu pun ghaib. Jika sifat Allah itu Wujud cahaya, maka Rumah-Nya itu pun wujud cahaya. Lalu, dari mana para teolog dan para ahli kalam itu dengan serta merta menyamakan Allah dengan Makhluk? Belum lagi jika ditanya udah berjumpa wajah Allah belum? Ini memerlukan ruang lain lagi untuk diuraikan.

  1. Apa hubungannya semua ini dengan mengenal diri syarat menyembah Allah?

Pertama, seperti di awal paragraf tulisan ini, bahwa Allah tidak tersusun dari jisim-materi. Kedua, dalam menyembah Allah harus shalat. Dalam shalat harus ingat Allah. Bagaimana bisa mengingat-Nya, berjumpa saja tidak pernah. Maka ketiga, Allah memberikan solusi seperti keterangan dalam Q.s. al-Baqarah [2]:144 "qad narâ taqalluna wajhika fī ap-samã`i falanuwalliyannaka qiblatan tardlâhâ fawalli wajhaka syathra al-masjidi al-harãm wa haitsu mã kuntum fawallū wujūhakum syathrahū... -- kadang Kami melihat wajahmu tertengadah ke langit, maka sungguh Kami palingkan kamu ke qiblat (haluan hati) yang pasti kamu senangi, maka palingkanlah wajahmu ke arah masjidil haram, dan di mana saja kalian berada maka palingkan wajah kalian ke ayahnya...".

Dalam teks ayat ini kita dapat menemukan urgensinya mengenal diri. Ada kata palingkan, hadapkan wajahmu ke syathr/arah/tanda ada masjidil haram. Ketika teks ayat ini diqaulkan oleh Rasulullah sebagai penyampaian Kalam Allah, al-Haram masjid beton yang sekarang itu belum ada. Al-Haram yang sekarang itu dibangun oleh Sayyidina Umar di zamannya. Artinya Masjid al-Haram dalam teks itu wujudnya non-fisik. Maka disebutlah "hadapkan wajahmu ke arah/tandanya".  Arah atau tanda ,bahwa di tempat itu ada Tempat Sujud Yang Mulia, seperti isyarat teks ayat Q.s. al-Baqarah [2]:125 di atas. Sebenarnya tempat itu tidak mulia, tetpai di tempat itu semua orang beriman diperintah sujud kepada Yang Mulia. Tempaat itu dimulikan oleh Yang Mulia.

Kemudian ada kata di teks itu "wajahmu". Dalam tulisan terdahulu "Mengenal Jasad dan Diri", diuraikan bahwa jasad bukan diri—bukan kamu. Maka wajah yang dimaksud adalah bukan wajah tubuh yang bisa dilihat di balik cermin ini. Melainkan, "wajahmu itu adalah wajah ruh". Adapun Wujud wajah ruh itu adalah INGATAN. Jika perintah itu "palingkan wajahmu", maka itu artinya hadirlah, letakkanlah ingatanmu di syathr atau tanda ada masjid al-Haram itu. Itu haluan hatimu dalam shalat Saat sembahyangmu.

Apa Wujud syathr atau tanda ada masjid al-Haram itu? Ialah bangunan hitam yang dibangun oleh seorang yang bersuku-bangsa Ka'ab, maka bangunan itu bernama Ka'bah. Jadi Ka'bah itu bukan qiblat tetapi tanda qiblat. Adapun qiblat itu adalah masjid al-Haram. Masjid al-Haram wujudnya ghaib bagi yang belum direjekikan bathinnya untuk diperlihatkan.

Demikian hubungan mengenal diri sebagai syarat mengenal dan menyembah Allah. Tentang qiblat ini, pada tulisan mendatang akan diurai dengan tajuk "Khusyu' Inti Shalat". Demikian juga perlu saya tegas bahwa “Mengenal Diri Syarat Mengenal dan Menyembah Allah, bukan syarat sah tambahan dalam hukum ibadah secara syariat

Pada akhirnya, persoalan terpenting bukan sekadar apakah seseorang telah melaksanakan shalat, melainkan bagaimana ia menghadirkan dirinya sebagai hamba ketika melaksanakan shalat tersebut.