Kalimantan Barat — Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 bukan sekadar ritual tahunan berupa upacara, perlombaan, dan perkemahan. HSN adalah momentum strategis untuk meneguhkan kembali jati diri santri, merawat ingatan kolektif tentang perjuangan ulama, dan meneruskan tanggung jawab kebangsaan yang diwariskan oleh para pendiri Nahdlatul Ulama (NU) serta para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia.
Dalam semangat itulah, Perkemahan Satuan Komunitas (Sako) Pandu Ma’arif Kalimantan Barat digelar sebagai bagian dari rangkaian Hari Santri Nasional. Perkemahan ini tidak hanya menjadi ruang pembentukan kedisiplinan, kemandirian, dan solidaritas antarpeserta, melainkan juga wahana pendidikan ideologi kebangsaan bagi generasi muda Nahdliyin di Bumi Khatulistiwa.
Pada pembukaan kegiatan, saya menegaskan dua hal mendasar:
Hari Santri Nasional adalah harinya para Nahdliyin, yang secara spiritual dan historis merupakan santri Hadlratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari.
Peringatan HSN harus menjadi momentum pembelajaran dari semangat Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, yang menegaskan kewajiban mempertahankan kemerdekaan dan membela tanah air.

HSN dan Jati Diri Santri Nahdliyin di Kalimantan Barat
Bagi warga Nahdlatul Ulama, menjadi santri tidak semata-mata berarti pernah menempuh pendidikan di pondok pesantren. Kesantrian adalah sikap hidup yang berpijak pada empat pilar:
Penghormatan terhadap ulama
Pengamalan ajaran Islam
Pengabdian kepada masyarakat
Kesetiaan terhadap agama dan tanah air
Dalam tradisi NU, hubungan antara keislaman dan kebangsaan bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya berjalan beriringan dalam semangat hubbul wathan minal iman — cinta tanah air merupakan bagian dari iman.
Karena itu, HSN harus dimaknai sebagai hari pembaruan komitmen seluruh warga Nahdliyin terhadap perjuangan keagamaan, kemanusiaan, dan kebangsaan. Santri tidak cukup hanya menguasai ilmu agama. Ia juga wajib memiliki:
Wawasan kebangsaan yang kokoh
Kecakapan intelektual
Kepekaan sosial
Kemampuan membaca tantangan zaman
Semangat ini sangat relevan dengan penyelenggaraan Perkemahan Sako Pandu Ma’arif Kalimantan Barat. Pendidikan kepramukaan yang berakar pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah semestinya melahirkan generasi yang beriman, berakhlak, disiplin, mandiri, moderat, dan berkomitmen pada keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
5 Pelajaran Penting Resolusi Jihad untuk Generasi Santri Hari Ini
Dari sejarah tersebut, setidaknya ada lima pelajaran utama yang harus terus diwariskan kepada generasi santri:
1. Kemerdekaan Republik Indonesia Wajib Dipertahankan
Kemerdekaan adalah hasil perjuangan dan pengorbanan para pendahulu. Generasi sekarang bertanggung jawab mengisinya dengan pendidikan, pembangunan, keadilan sosial, dan pengabdian kepada masyarakat.
2. NKRI Wajib Dibela
Keutuhan bangsa adalah amanah sejarah yang harus dijaga oleh seluruh warga negara. Perbedaan suku, agama, bahasa, dan kebudayaan tidak boleh dijadikan alasan merusak persaudaraan kebangsaan.
3. Segala Bentuk Penjajahan Harus Ditolak
Semangat antikolonialisme tidak hanya relevan menghadapi penjajahan fisik, tetapi juga pengingat agar bangsa Indonesia tidak kehilangan kedaulatan, martabat, dan kebebasan menentukan masa depannya.
4. Umat Harus Digerakkan Membela Tanah Air
Perjuangan kebangsaan bukan tanggung jawab satu golongan. Ulama, santri, pemuda, pendidik, dan seluruh elemen masyarakat wajib berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing — melalui pendidikan, dakwah, penguatan ekonomi, dan pengabdian sosial.
5. Perjuangan Mempertahankan Tanah Air Punya Dimensi Keagamaan
Dalam konteks Resolusi Jihad, kewajiban jihad dipahami para ulama sebagai tanggung jawab keagamaan untuk mempertahankan kemerdekaan. Dalam rumusan fikih, kewajiban membela wilayah yang diserang dibahas sebagai fardu ain bagi yang berada dalam jangkauan kewajiban itu, sementara tanggung jawab di luar wilayah dapat berstatus fardu kifayah, dengan mempertimbangkan keadaan.
Sako Pandu Ma’arif sebagai Benteng Pendidikan Kebangsaan NU Kalbar

Perkemahan Sako Pandu Ma’arif Kalimantan Barat memiliki posisi penting karena pendidikan kebangsaan tidak cukup disampaikan melalui ceramah. Nilai-nilai itu harus ditanamkan melalui pengalaman, keteladanan, kedisiplinan, kerja sama, dan praktik kehidupan sehari-hari.
Apa Saja yang Dipelajari Peserta di Perkemahan?
Di perkemahan, peserta belajar:
Menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi
Menghormati perbedaan
Menyelesaikan persoalan melalui musyawarah
Menjaga lingkungan
Bekerja dalam tim
Bertanggung jawab atas tugas yang diberikan
Semua ini adalah latihan konkret dalam membangun karakter warga negara yang demokratis dan berkeadaban.
Literasi Digital dan Ketahanan Ideologi Santri
Sako Pandu Ma’arif juga perlu menjadi ruang penguatan literasi digital dan ketahanan ideologi. Generasi muda harus dibekali kemampuan mengenali:
Berita bohong (hoaks)
Propaganda kebencian
Ujaran intoleran
Ajakan yang membenarkan kekerasan atas nama agama